Sumbar Tuntaskan Rehabilitasi Lahan Pertanian Terdampak Bencana, Rp32,9 Miliar Sukses Pulihkan 3.902 Hektare Sawah

×

Sumbar Tuntaskan Rehabilitasi Lahan Pertanian Terdampak Bencana, Rp32,9 Miliar Sukses Pulihkan 3.902 Hektare Sawah

Bagikan berita
Gubernur Sumbar, Mahyeldi dengarkan paparan hasil pengerjaan rehabilitasi sawah rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi. di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu. (humas)
Gubernur Sumbar, Mahyeldi dengarkan paparan hasil pengerjaan rehabilitasi sawah rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi. di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu. (humas)

PADANG PARIAMAN (13/5/2026) - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi menegaskan, keberhasilan rehabilitasi lahan pertanian rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi di Sumbar. Menelan anggaran sebesar Rp32,9 miliar.

Tuntasnya pengerjaan rehabilitasi yang dibiayai Kementerian Pertanian ini, ungkap Mahyeldi, juga tidak lepas dari dukungan Balai Wilayah Sungai Sumatera V dan seluruh pihak terkait termasuk bupati/wali kota daerah terdampak.

“Komitmen Pak Menteri dan seluruh jajaran luar biasa, keberhasilan ini tidak lepas dari keseriusan beliau, mulai dari penyiapan anggaran hingga pengawasan langsung ke lapangan. Tahapan berikutnya, untuk kategori rusak berat dan hilang, semoga bisa cepat juga. Itu sedang kita koordinasikan,” ungkap Mahyeldi.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat mengikuti kegiatan tanam padi serentak di lahan sawah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu.

Sesuai arahan menteri pertanian, ungkap dia, proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang, berhasil dipercepat.

“Hari ini adalah penanaman terakhir, artinya progres kita sudah 100 persen,” ungkap Gubernur Mahyeldi.

Kendati demikian, Mahyeldi juga mengingatkan akan ancaman baru yang juga perlu segera diantisipasi seluruh pihak terkait, yakni potensi musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli 2026. Menurutnya, mempercepat proses tanam bisa menjadi solusi.

“Kemarin Pak Sekjen menekankan kepada kami agar segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering atau El Nino. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman,” katanya.

Selain El Nino, Mahyeldi menilai, tantangan terbesar saat ini justru pada penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat bencana.

Ia menyebut terdapat sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat di Sumbar, termasuk lebih dari 4.000 hektare lahan yang hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tersapu longsor.

Editor : Al Mangindo
Bagikan

Berita Terkait
Terkini