“Tiga kekuatan ini bukan sekadar aset untuk dipamerkan. Ketiganya adalah modal pembangunan yang harus dijaga sekaligus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebut Silokek sebagai “buku sejarah bumi” yang terbuka, karena bentang alam dan batuannya menyimpan jejak perjalanan bumi selama jutaan tahun.
Karena itu, warisan tersebut harus dipastikan tetap dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Pengembangan Silokek, lanjut Mahyeldi, juga sejalan dengan arah pembangunan Sumatera Barat melalui RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029.
Konsep Green Province menempatkan pembangunan agar tetap selaras dengan alam, sementara geopark menjadi salah satu implementasi pembangunan berbasis potensi wilayah.
“Geopark bukan program yang berdiri sendiri. Geopark adalah bagian dari arah pembangunan Sumatera Barat menuju 2045,” katanya.
Mahyeldi menekankan terdapat lima komitmen utama dalam pengembangan Silokek, yakni konservasi, pendidikan, pembangunan berkelanjutan, penguatan ekonomi masyarakat, dan ketangguhan bencana.Ia berharap proses evaluasi dapat melihat bukan hanya potensi Silokek, tetapi juga kerja panjang pemerintah dan masyarakat dalam menjaganya.
Perjalanan Panjang Sejak Tahun 2018
Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir mengatakan perjalanan Geopark Ranah Minang Silokek telah dimulai sejak 2018 hingga akhirnya masuk tahap evaluasi UNESCO Global Geopark.
Editor : Al Mangindo