PADANG (20/8/2026) - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi menegaskan pentingnya membangun tata lingkungan yang berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, terutama setelah Sumatera Barat mengalami berbagai bencana hidrometeorologis.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Teknis Tata Lingkungan Tahun 2026 di Universitas Andalas, Padang, Kamis.
Rapat koordinasi tersebut mengangkat tema “Tata Lingkungan Berbasis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Pascabencana Hidrometeorologis” dan dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono.
Juga hadir, Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Sigit Reliantoro, jajaran Kementerian Lingkungan Hidup, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, kepala dinas lingkungan hidup dan Bappeda provinsi serta kabupaten/kota se-Sumatera Barat, akademisi, serta mahasiswa.
Gubernur mengatakan, tema yang diangkat bukan sekadar persoalan teknis lingkungan, tetapi menjadi bagian penting dari pembelajaran Sumatera Barat dalam menghadapi berbagai bencana.
Menurutnya, bencana yang terjadi harus menjadi evaluasi untuk menentukan bagaimana pembangunan ke depan dilaksanakan secara lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.“Bencana telah memberikan pelajaran yang sangat mahal kepada kita. Karena itu, kita tidak boleh hanya bertanya berapa besar kerusakan akibat bencana, tetapi juga harus bertanya apa yang harus kita pelajari dari bencana tersebut,” ujar Mahyeldi.
Ia menyebut, berbagai bencana seperti gempa bumi, banjir dan longsor telah memberikan dampak besar bagi masyarakat Sumatera Barat.
Bencana hidrometeorologis yang terjadi sebelumnya tercatat berdampak terhadap lebih dari 296 ribu jiwa, menyebabkan 264 orang meninggal dunia dan lebih dari 10 ribu masyarakat mengungsi.
Kerugian dan kerusakan ditaksir mencapai Rp33,3 triliun, sementara kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi diusulkan sebesar Rp21,4 triliun.
Editor : Al Mangindo