Budaya persalinan di rumah disebut telah berhasil ditiadakan di wilayah tersebut.
"Tantangan wilayah perlintasan dengan mobilitas warga yang tinggi serta banyaknya ibu hamil usia muda tentu menyimpan kerentanan tersendiri," imbuhnya.
Namun, lanjut Nova, berkat sinergi lintas sektor yang solid, pengawasan ketat, serta garda terdepan kader Posyandu, budaya persalinan di rumah kini sepenuhnya telah beralih ke persalinan medis yang aman.
Ia menjelaskan, kader Posyandu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi anak kurus dan balita yang berisiko mengalami stunting.
Anak yang ditemukan berisiko kemudian diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan di Puskesmas Anak Air.
Untuk intervensi gizi, PMT lokal yang bersumber dari Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Kementerian Kesehatan dikelola oleh tenaga gizi puskesmas bersama mitra lokal.
Makanan bernutrisi tersebut selanjutnya diantarkan langsung ke rumah sasaran oleh kader setiap hari selama program berlangsung.Meski demikian, pola asuh masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan stunting.
Orang tua yang bekerja terkadang menitipkan anak kepada pengasuh atau anggota keluarga lain.
Kondisi ini dapat memengaruhi pola makan anak, terutama ketika makanan selingan yang diberikan kurang bernutrisi hingga berdampak pada menurunnya nafsu makan.
Editor : Veby Rikiyanto