Menurutnya, ketersediaan energi merupakan salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kita akan mempersiapkan tenaga surya di Mentawai. Tidak mungkin industri bergerak dan ekonomi lebih cepat kalau ketersediaan energi masih belum terjamin,” ujarnya.
Ia menambahkan, transisi energi harus diwujudkan melalui aksi nyata, mulai dari pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan, sistem kelistrikan cerdas, hingga inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk itu, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan generasi muda perlu terus diperkuat.
Rektor Unand, Efa Yonnedi mengapresiasi Pertamina yang menjadikan kampus sebagai ruang kolaborasi akademisi dan industri.
Menurutnya, PGTC penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi berbagai perubahan, termasuk di bidang energi, iklim, demografi, geopolitik, dan disrupsi teknologi.
“Bagaimana kita ikut menjadi bagian, menjadi inovator, menjadi peneliti, menjadi mahasiswa penggerak untuk menemukan solusi-solusi baru mengatasi perubahan iklim,” kata Efa.Sementara itu, Vice President Stakeholders Relation & Management PT Pertamina (Persero), Rifky Rahman Yusuf menegaskan, PGTC bukan sekadar agenda Pertamina hadir di kampus, melainkan ruang interaksi sekaligus jembatan kolaborasi antara industri dan akademisi.
“Karena kami percaya masa depan Indonesia tidak dapat dibangun hanya oleh pemerintah, industri, ataupun perguruan tinggi sendiri. Kita membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh generasi muda,” ujar Rifky.
Mengusung tema “Energizing Acceleration for Future Impact”, PGTC 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan industri, kapasitas akademik, dan gagasan generasi muda guna mempercepat transformasi energi Indonesia serta melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. (*)
Editor : Al Mangindo