Wamenkes: Penanganan TB Tak Cukup Hanya Mengobati Pasien

×

Wamenkes: Penanganan TB Tak Cukup Hanya Mengobati Pasien

Bagikan berita
Wakil Menteri Kesehatan Meninjau Penggunaan Perangkat Portable TCM Truenat yang Digunakan Sebagai Alat Deteksi TB, Jumat (18/9/2026)
Wakil Menteri Kesehatan Meninjau Penggunaan Perangkat Portable TCM Truenat yang Digunakan Sebagai Alat Deteksi TB, Jumat (18/9/2026)

PADANG, Menara Info — Penanganan tuberkulosis (TB) di Indonesia tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang telah terdiagnosis.

Pemeriksaan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien perlu diperkuat untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus mencegah penularan baru.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, mengatakan pengobatan TB di Indonesia telah berjalan baik dengan angka keberhasilan di atas 90 persen.

Tantangan berikutnya adalah memperkuat pencegahan agar orang yang telah terpapar tidak berkembang menjadi pasien TB aktif.

“Kalau perkara mengobati orang sakit, di Indonesia enggak ada masalah, dari Aceh sampai Papua sudah bisa dan bagus, masalah kita pencegahannya yang belum jalan,” kata Benjamin saat mengunjungi pelaksanaan skrining TB yang digelar Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Aula Kantor Camat Lubuk Begalung, Kota Padang, Jumat (18/9/2026).

Menurut Benjamin, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB merupakan kelompok yang perlu segera diperiksa.

Sebab, bakteri TB dapat berkembang secara perlahan di dalam tubuh. Seseorang yang tertular belum tentu langsung mengalami gejala dan prosesnya dapat berlangsung sekitar 8 hingga 12 minggu.

“Kalau tertular hari ini, sakitnya baru bisa Desember, bukan sakitnya minggu depan,” ujarnya.

Karena itu, orang yang diketahui memiliki kontak erat tetapi belum mengalami TB aktif dapat diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sedangkan mereka yang terbukti sakit segera mendapatkan pengobatan.

Indonesia sendiri masih menghadapi beban TB yang tinggi.

Editor : Veby Rikiyanto
Bagikan

Berita Terkait
Terkini