PADANG, Menara Info – Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Perikanan dan Pangan mendorong keberlanjutan usaha Kelompok Wanita Tani (KWT) dan petani milenial terdampak bencana melalui integrasi pertanian lokal dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Strategi Keberlanjutan KWT dan Petani Milenial Terdampak Bencana melalui Integrasi Pertanian Lokal dan MBG yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan, Balai Kota Padang, Aie Pacah, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan ini diikuti 41 KWT terdampak banjir pada November 2025, petani milenial, serta koordinator wilayah (korwil) dan koordinator kecamatan (korcam) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kota Padang.
Hadir sebagai narasumber Prof. Musliar Kasim dan Dr. Afrizal, serta Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan, Dessy.
Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan, Dessy, mengatakan Pemko Padang pada 2025 telah menyalurkan bantuan melalui dana Transfer ke Daerah (TKD) kepada 41 KWT terdampak banjir untuk mendukung pemulihan usaha kelompok.
"Tahun lalu, kami sudah menyalurkan bantuan melalui dana TKD kepada 41 KWT yang terdampak banjir di Kota Padang. Sekarang, kami ingin mendorong mereka agar bisa berkembang lebih jauh dengan menggandeng petani milenial dan menjalin kerja sama dengan dapur MBG,” ujarnya.Menurut Dessy, langkah selanjutnya adalah mendorong KWT dan petani milenial agar tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara mandiri melalui inovasi dan perluasan akses pemasaran.
“Harapannya, KWT dan petani milenial ini tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga bisa terus tumbuh, berinovasi, dan mengembangkan usahanya. Dengan adanya kerja sama dengan dapur MBG, hasil pertanian mereka bisa terserap dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Musliar Kasim menilai KWT dan petani milenial memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian lokal, terutama jika didukung melalui kolaborasi yang tepat dan berkelanjutan.
“KWT dan petani milenial memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian lokal. Dengan dukungan dan kerja sama yang tepat, potensi ini dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana,” ungkapnya.
Editor : Veby Rikiyanto