Konflik Antara Sungai Lubuk Minturun dan Kota Padang

Foto Andi, ST, M.T
×

Konflik Antara Sungai Lubuk Minturun dan Kota Padang

Bagikan opini
Ilustrasi Konflik Antara Sungai Lubuk Minturun dan Kota Padang

Konsep ‘room for the river’ memberi ruang bagi sungai untuk meluap, terbukti di Belanda dan Jerman. Negara berani membeli lahan di jalur air, bukan menjual izin di sana.

SUNGAI dalam tradisi perancangan kota selalu diposisikan sebagai infrastruktur hijau yang menopang keseimbangan ekologis sekaligus sebagai ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial warga.

Ian McHarg dalam Design with Nature (1969/1995) menegaskan bahwa alur air wajib dibaca sebagai cetak biru (blue print) terkuat dalam penataan wilayah, setiap kesalahan membaca alur itu akan berakhir pada bencana yang berulang.

Pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026, Sungai Lubuk Minturun kembali meluap.

Air bah merendam sekitar 120 rumah di Kampung Apa dan Perumahan Lumin Park, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.

Ratusan warga dievakuasi, korban kembali menjadi pengungsi.

Skenario ini bukan hal baru.

Sebelas bulan sebelumnya, 26-27 November 2025, banjir bandang yang sama, dengan karakter dan jalur yang sama.

Tiga kali dalam dua tahun air bah turun dari lereng Bukit Barisan dan memakan korban.

Bagikan

Opini lainnya
Terkini