Perselisihan bukan pada hujan, melainkan pada cara kota memperlakukan sungai.
Tiga peristiwa dalam dua tahun, lebih cukup untuk membantah anggapan bahwa ini kehendak alam.
Polanya terlalu seragam untuk disebut kebetulan: hujan deras di perbukitan, gemuruh dari hulu, lalu air beserta gelondongan kayu dan batu menghantam permukiman di tepi sungai.
Yang berulang bukan sekadar bencananya, tetapi juga kegagalannya.
Hasil Analisis citra satelit yang dirilis Wahli Sumbar pada 2025 menemukan sedikitnya 15 titik pembukaan lahan dan dugaan pembalakan liar di hulu Daerah Aliran Sungai Air Dingin, persis di kawasan hutan lindung dan Suaka Margasatwa Bukit Barisan.
Hutan terbuka berarti air hujan tak lagi ditahan tajuk dan perakaran.
Air berubah menjadi limpasan permukaan yang meluncur serentak ke lembah, lalu bergabung menjadi gelombang debrida bertenaga besar di hilir.
Tak ada tanggul beton yang mampu menahan energi seperti itu.Tata ruang hilir yang membiarkan permukiman menginvasi jalur bahaya.
Perumahan Lumin Park, Kampung Apa dan Kampung Aua, bertumbuh menempel badan sungai, sebagian berdiri tepat di dataran banjir yang seharusnya menjadi sempadan.