PAYAKUMBUH || Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terus memperkuat layanan literasi bagi masyarakat. Memasuki tahun 2026, Perpustakaan Umum Kota Payakumbuh resmi menerapkan pelayanan tujuh hari dalam sepekan sebagai bagian dari upaya memperluas akses bacaan dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang inklusi sosial.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, mengatakan layanan perpustakaan kini dibuka Senin hingga Kamis pukul 08.00–16.00 WIB, Jumat pukul 08.00–16.30 WIB, serta Sabtu dan Minggu pukul 09.00–14.00 WIB. Pihaknya juga menerapkan fleksibilitas layanan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Apabila ada pemustaka atau pustakawan yang membutuhkan waktu tambahan di luar jam layanan, kami siap melayani hingga sore hari,” ujar Erwan Saat diwawancara Sabtu, (03/01/2026).
Erwan menjelaskan, masyarakat yang ingin membaca di tempat cukup menunjukkan identitas diri di meja layanan. Pengunjung bebas membaca buku, berdiskusi, memanfaatkan WiFi, serta menggunakan seluruh fasilitas perpustakaan tanpa dipungut biaya.
Sementara itu, bagi pemustaka yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang diwajibkan menjadi anggota Perpustakaan Umum Kota Payakumbuh dengan persyaratan sederhana berupa pengisian formulir dan identitas diri. Proses keanggotaan dapat langsung diselesaikan pada hari yang sama, dengan masa peminjaman tiga hari dan dapat diperpanjang.
“Keanggotaan terbuka untuk seluruh Warga Negara Indonesia, tidak hanya warga Kota Payakumbuh,” tegasnya.Dari sisi fasilitas, Perpustakaan Umum Kota Payakumbuh memiliki koleksi sekitar 22 ribu eksemplar buku yang tersebar di gedung tiga lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai ruang baca utama, lantai kedua sebagai ruang referensi, ruang diskusi, BA Corner, serta layanan digital melalui aplikasi Sumbar Membaca dan E-Perpusnas.
Sementara lantai ketiga dilengkapi ruang home theater, ruang seminar berkapasitas 150 orang, serta ruang kegiatan literasi dan keterampilan masyarakat.
Menurut Erwan, tingkat kunjungan perpustakaan terus menunjukkan tren positif dengan rata-rata 1.300 pengunjung per bulan atau sekitar 50–60 orang per hari.
“Perpustakaan hari ini bukan hanya tempat membaca dan menyimpan buku, tetapi juga ruang berkegiatan masyarakat serta pusat literasi berinklusi sosial,” jelasnya.
Editor : Rionaldo