Baca juga: Perjalanan Berliku ke Singapura
Kekuatan tersebut lahir dari sejarah panjang keberagaman budaya di Kota Padang. Konsep "Padang jalan berempat" menggambarkan harmoni empat etnis yang membentuk wajah kota ini, yakni Minangkabau, India, Tionghoa, dan Nias. Akulturasi itu melahirkan beragam warisan budaya, seperti Tari Balanse Madam dan kesenian Gamad dari etnis Nias, Barongsai dari etnis Tionghoa, tradisi Makan Bajamba dari Minangkabau, hingga Serak Gulo yang diwariskan masyarakat keturunan Tamil. Namun, jejak paling kuat dari pertemuan budaya tersebut terlihat pada ragam kuliner Kota Padang. "Berbagai etnis ini tidak membuat makanan sesuai etnisnya masing-masing, tetapi justru memperkaya masakan Padang," kata Yenni. Ia mencontohkan pengaruh Tionghoa yang melahirkan sejumlah hidangan peranakan di berbagai kedai, sementara sentuhan India tampak pada penggunaan rempah-rempah dalam hidangan seperti Soto Garuda, Soto Rajawali, hingga martabak Malabar. Kekayaan cita rasa inilah yang diyakini menjadi modal kuat Kota Padang untuk bersaing di tingkat internasional.
Editor : Veby Rikiyanto
Padang Bidik Pengakuan UNESCO sebagai Kota Gastronomi 2027
| 71 klik
PADANG, Menara Info – Kota Padang memantapkan langkah untuk meraih pengakuan dunia sebagai Kota Gastronomi UNESCO pada 2027. Mengandalkan kekayaan kuliner hasil akulturasi budaya yang telah tumbuh selama ratusan tahun, ibu kota Provinsi Sumatera Barat itu kini tengah menyiapkan dokumen untuk mengikuti seleksi nasional Jejaring Kota Kreatif UNESCO. Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan gastronomi bukan sekadar soal makanan, melainkan perpaduan antara budaya dan kuliner yang menjadi warisan tak benda masyarakat Kota Padang. "Gastronomi adalah perpaduan budaya dan kuliner yang menjadi bagian dari kekayaan warisan budaya Kota Padang. Ini yang ingin kita usung untuk memperkuat identitas Kota Padang sebagai kota gastronomi," ujarnya, Selasa(16/6/2026).
Berita Terkait