TAPANULI TENGAH (22/7/2026) - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera melalui tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus mendampingi penanganan darurat banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Penanganan difokuskan pada keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan warga terdampak, pembersihan permukiman, perbaikan tanggul, serta normalisasi sungai untuk mengurangi risiko banjir berulang.
Banjir terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 WIB setelah hujan deras menyebabkan sejumlah sungai meluap ke badan jalan dan permukiman warga.
Genangan dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter hingga satu meter melanda Kecamatan Tukka, Badiri, dan Pinangsori.
Hingga laporan perkembangan Selasa, 21 Juli 2026, tidak terdapat korban jiwa, sedangkan pendataan kerugian material masih berlangsung.
Di Kecamatan Tukka, banjir berdampak pada Kelurahan Sipange, Bonalumban, dan Hutanabolon. Peningkatan debit Sungai Aek Sagala dan Aek Harse merusak sejumlah bagian tanggul, sehingga air melimpas ke jalan dan kawasan permukiman.Setelah air surut, rumah-rumah warga dan lingkungan sekitar masih dipenuhi endapan lumpur yang kini dibersihkan secara bergotong royong.
Banjir juga melanda Lingkungan I Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, setelah Sungai Lopian melampaui tanggul dan menggenangi permukiman.
Sementara itu, banjir di Lingkungan III Kelurahan Albion Prancis, Kecamatan Pinangsori, telah surut. Pemerintah daerah tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan cuaca dan kenaikan debit sungai.
“Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah mengimbau warga yang masih berada di rumah agar segera mengungsi dan menyiapkan satu unit perahu fiber untuk mendukung evakuasi dan penyelamatan,” tulis laporan tim yang dipimpin Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap.
Editor : Al Mangindo