Puan memandang, membangun Indonesia sebagai bangsa yang besar bukan hanya memerlukan sumber daya dan kebijakan yang tepat, tetapi juga fondasi yang paling mendasar, yaitu persatuan dan kesatuan.
"Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan pandangan politik, maka kemauan dan kemampuan kita untuk tetap berjalan bersama, bergandeng tangan, merupakan kekuatan terbesar bangsa Indonesia," jelas Puan.
Puan menekankan, persatuan bukanlah keadaan yang lahir karena kita sama, melainkan pilihan untuk tetap bersama walaupun kita berbeda. Persatuan dan kesatuan bukan sekadar cita-cita, melainkan prasyarat bagi keberhasilan pembangunan nasional.
"Tanpa persatuan dan kesatuan, setiap upaya pembangunan akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Perbedaan mudah berubah menjadi perpecahan, kepercayaan sosial melemah, dan energi bangsa habis untuk menyelesaikan konflik," ungkap mantan Menko PMK ini.
"Sebaliknya, ketika seluruh anak bangsa saling percaya, saling menghormati, menjunjung tinggi semangat gotong royong, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan, maka pembangunan tidak hanya berjalan lebih efektif, akan tetapi juga mampu menghadirkan manfaat yang besar dan adil bagi seluruh rakyat Indonesia," tambah Puan.
Lebih jauh, Puan mengingatkan bahwa keberagaman bukan ancaman bagi persatuan, tetapi kenyataan yang harus dipersatukan oleh cita-cita yang sama, tujuan yang sama, rasa yang sama sebagai rakyat Indonesia.
“Menjadi bangsa Indonesia berarti hidup dalam satu ‘rumah kebangsaan’. Rumah yang dibangun oleh sejarah, dipersatukan oleh Pancasila, dan diwariskan kepada setiap generasi untuk dijaga bersama,” sebutnya.Di dalam rumah itu, kata Puan, setiap warga negara merasa dihormati martabatnya, dilindungi hak-haknya, serta memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
"Persatuan dan kesatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan. Persatuan justru memberi makna pada perbedaan. Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, bahasa, maupun pilihan politik, tetapi kita tetap memiliki satu tujuan yang sama, berada dalam rumah kebangsaan yang sama, berlindung di dalam rumah kebangsaan yang sama," papar Puan.
"Dengan rasa tanggung jawab kebangsaan yang demikian, maka apapun perbedaan yang kita miliki, maka tidak akan pernah dari kita yang akan merusak 'rumah' kita bersama. Apabila kita merasa ikut memiliki 'rumah kebangsaan Indonesia' tersebut maka pastilah kita akan merawatnya dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.
Editor : Al Mangindo