PADANG, Menara Info — Dinas Kesehatan Kota Padang memperkuat koordinasi dan jejaring pelayanan antara puskesmas dan rumah sakit sebagai upaya menekan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) dan gizi.
Hingga September 2026, tercatat sebanyak 13 kasus kematian ibu dan 73 kasus kematian bayi di Kota Padang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya melalui deteksi dini risiko kehamilan, penanganan komplikasi, dan penguatan sistem rujukan antarfasilitas kesehatan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, dr. Srikurnia Yati, M.K.M., dalam Pertemuan Koordinasi dan Implementasi Jejaring serta Supervisi Fasilitatif Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan Kesehatan Reproduksi (Kespro) di ZHM Premiere Hotel, Rabu (28/10/2026).
Dalam sambutannya, Srikurnia menegaskan kesehatan ibu dan anak serta status gizi masyarakat merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia.
Karena itu, upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta prevalensi stunting dan masalah gizi lainnya membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.“Ibu yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat, dan anak yang tumbuh dengan gizi yang baik akan menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Menurutnya, angka kematian ibu dan bayi serta berbagai persoalan gizi tidak bisa dipandang hanya sebagai data statistik.
Di balik angka tersebut terdapat ibu, bayi, dan keluarga yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan berkualitas.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang per September 2026, prevalensi stunting tercatat sebesar 2,64 persen, balita wasting sebesar 2,83 persen, dan underweight sebesar 4,69 persen.
Editor : Veby Rikiyanto