“Kami tidak bisa hanya diam menunggu pembeli. Kami harus menjemput bola dengan membuka etalase di tempat-tempat strategis. Ini membuktikan bahwa produk warga binaan dikelola secara serius dan layak bersaing di pasaran,” katanya.
Ia berharap ke depan kerja sama serupa dapat terus berkembang dan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk hasil pembinaan warga binaan.
Di sisi lain, Kepala Urusan Umum Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Agam, Venri Patra, menyambut baik kehadiran produk kerajinan tersebut di ruang pelayanan imigrasi.
Menurutnya, selain memberikan pilihan belanja bagi masyarakat yang datang mengurus dokumen perjalanan, keberadaan produk tersebut juga membawa misi sosial.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kami dalam mendukung program pembinaan kemandirian warga binaan. Kami berharap produk-produk ini semakin dikenal masyarakat luas karena kualitasnya tidak kalah dengan produk komersial di pasaran,” ujar Venri.
Melalui kolaborasi ini, manfaat yang dihasilkan dinilai cukup signifikan. Selain membuka jalur pemasaran baru bagi produk warga binaan, kehadiran etalase di tempat publik seperti kantor imigrasi juga diharapkan mampu mengubah stigma negatif masyarakat terhadap warga binaan pemasyarakatan.Hasil karya yang dipamerkan menjadi bukti bahwa warga binaan memiliki potensi, kreativitas, dan kemampuan untuk berkarya serta berkontribusi secara positif.
“Bagi masyarakat yang datang mengurus dokumen perjalanan, kini mereka tidak hanya mendapatkan layanan keimigrasian, tetapi juga dapat berbelanja sekaligus berkontribusi dalam program pemberdayaan warga binaan Lapas Tanjung Pati,” pungkasnya.
Editor : Al Mangindo Kayo Gadang