Yang pasti, setiap kilometer yang dilalui membawa mereka semakin jauh dari tanah yang mereka kenal dan semakin dekat kepada masa depan yang belum dapat mereka bayangkan.
Dari Teluk Kuantan perjalanan dilanjutkan ke Tanjung Pinang. Setelah itu mereka menyeberang menuju Singapura dengan kapal barang.
Bagi kebanyakan kita, sebuah pelayaran hanyalah perpindahan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Namun bagi keluarga Prof. Soemitro, pelayaran itu menandai berakhirnya satu bab kehidupan dan dimulainya bab yang baru.
Tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan berada di luar negeri.
Tidak ada yang tahu apakah mereka akan dapat kembali.
Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan tersebut pada akhirnya akan membawa mereka menjalani pengasingan selama sekitar sebelas tahun.Bahkan mungkin tidak ada yang membayangkan bahwa anak kecil yang ikut dalam perjalanan itu Prabowo Subianto kelak akan menjadi Presiden Republik Indonesia.
Di tengah semua ketidakpastian tersebut, ada satu hal yang pasti. Mereka tidak berjalan sendirian. Di sepanjang perjalanan menuju Singapura, terdapat orang-orang Minangkabau yang memilih untuk membantu.
Sebagian nama mereka tercatat, sebagian lagi mungkin telah terlupakan oleh sejarah. Namun bagi keluarga Djojohadikusumo, jasa mereka tidak pernah benar-benar hilang.
Karena pada saat-saat paling sulit dalam kehidupan seseorang, yang paling diingat sering kali bukanlah peristiwa besarnya, melainkan orang-orang yang hadir untuk membantu melewatinya.
Editor : Al Mangindo