PADANG (28/8/2026) - Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Sumatera Barat, Fajar Rusvan, mendesak aparat penegak hukum, untuk tidak menghentikan pengungkapan kasus penyelundupan narkoba jenis sabu di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada tahap penangkapan penumpang semata.
Pengungkapan kasus penyelundupan narkoba di BIM dinilai oleh Fajar Rusvan sebagai langkah penting, namun upaya pengusutan narkoba di Bandara Minangkabau harus diperluas hingga ke akar jaringan.
“Peredaran narkoba di Sumbar telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan membutuhkan tindakan komprehensif. Aparat penegak hukum harus berani mengungkap sampai ke bandarnya,” tegas Fajar Rusvan di Padang, Jumat.
Desakan ini disampaikan Fajar, merespon digagalkannya upaya penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 1.010 gram atau 1,01 kilogram melalui BIM, Kamis (27/8/2026).
Narkoba yang disembunyikan dalam koper pink milik seorang calon penumpang Lion Air itu, dideteksi petugas Aviation Security (Avsec) BIM saat menjalani proses x-ray sekitar pukul 05.26 WIB.
Narkoba ini disembunyikan dalam enam paket plastik yang masing-masingnya berisi kristal bening yang diduga sabu-sabu.Pengungkapan narkoba di Bandara Minangkabau ini menunjukkan profesionalisme petugas, namun Fajar Rusvan menegaskan, bahwa apresiasi terhadap APH harus diikuti dengan tuntutan pengembangan kasus yang lebih serius.
“Kami sangat mengapresiasi kejelian petugas Avsec yang berhasil mendeteksi gelagat mencurigakan. Kecakapan ini harus terus ditingkatkan oleh manajemen Injourney Airport BIM,” ujar Fajar Rusvan .
Fajar Rusvan mendorong APH untuk melakukan penyelidikan terhadap tersangka hingga ke tingkat bandar.
Pengusutan narkoba di Bandara Minangkabau tidak boleh berhenti pada pengungkapan kasus narkoba di permukaan, karena jaringan di balik penyelundupan sabu di BIM dipastikan memiliki struktur yang lebih luas.
Editor : Al Mangindo