Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan Nagari, Desa, dan Kelurahan Siaga TBC sebagai gerakan masyarakat berbasis wilayah.
Mahyeldi menyebutkan, berdasarkan data per 19 Juli 2026, telah terbentuk 264 desa/kelurahan Siaga TBC dari total 1.287 desa/kelurahan di Sumatera Barat atau sekitar 20,5 persen.
Ia menilai capaian tersebut merupakan perkembangan positif, namun perlu terus diperluas agar upaya pencegahan dan penemuan kasus semakin dekat dengan masyarakat.
“Bagi kita, 20,5 persen belum cukup. Target kita harus jauh lebih besar,” katanya.
Mahyeldi meminta pemerintah kabupaten dan kota mempercepat pembentukan sekaligus memastikan Nagari, Desa, dan Kelurahan Siaga TBC benar-benar aktif.
Kader di tingkat masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala TBC, memberikan edukasi, mendampingi keluarga pasien, mendorong pemeriksaan kontak serumah, serta membantu memastikan pasien menyelesaikan pengobatan hingga sembuh.
Dalam kesempatan tersebut, Mahyeldi juga mengapresiasi Konferensi Kerja PDPI ke-XVIII yang mengusung tema “Expanding Horizons in Every Breath.”Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum memperkuat kolaborasi organisasi profesi, pemerintah, fasilitas kesehatan, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan kesehatan respirasi, khususnya TBC.
Ia menilai PDPI memiliki peran strategis dalam mendukung pemerintah melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penguatan jejaring layanan TBC, penanganan TBC resisten obat, penemuan dan pelacakan kasus, edukasi masyarakat, serta penguatan terapi pencegahan TBC.
“Dengan dukungan PDPI dan jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, kita berharap upaya-upaya ini dapat mempercepat langkah menuju Sumatera Barat bebas TB,” ujar Mahyeldi.
Editor : Al Mangindo