Aroma ini secara langsung menegasi kemegahan visual fasad kolonial, menciptakan kesan kumuh yang sulit dihapus dari memori pengunjung.
Polusi Suara: Terjadi konflik akustik yang tajam antara ketenangan esensial sebuah kawasan heritage dengan kebisingan knalpot kendaraan bermotor yang tidak teratur, merusak fungsi koridor sebagai 'ruang kontemplatif'.
Sampah Visual: Tumpukan sampah kiriman dari hulu yang tersangkut di bibir sungai, bangkai-bangkai kapal berserakan menciptakan estetika negatif, serta mulai berdirinya bangunan-bangunan semi permanen dan permanen di tepian sungai menutupi pemandangan puitis dari deretan kapal kayu yang seharusnya menjadi ikon kawasan.
Hal tersebut menjadi alasan utama mengapa pengunjung enggan berlama-lama, meski pemandangan fisiknya memukau.
Kondisi ini merupakan bukti nyata dari pengabaian sistemik terhadap pemeliharaan ruang publik.
Pada kawasan inilah kita dapat melihat sebuah 'ironi aksesibilitas' terjadi di trotoar lebar sebagai labirin pedestrian.Dalam prinsip desain urban modern, konektivitas lancar dan akses universal adalah standar wajib.
Namun, sirkulasi di Batang Arau saat ini menunjukkan sebuah "hipokrisi arsitektural".
Kita membangun trotoar yang lebar, namun membiarkannya menjadi labirin yang mustahil ditembus oleh kelompok difabel maupun pejalan kaki umum.
Meskipun secara dimensi trotoar ini memiliki potensi luar biasa—sebuah kemewahan ruang di tengah kota—ruang publik ini justru "dicuri" oleh kepentingan privat dan ego sektoral: