Batang Arau; Antara Nostalgia Kota Tua dan Tantangan Ekologi Kawasan

Foto Andi, ST., MT
×

Batang Arau; Antara Nostalgia Kota Tua dan Tantangan Ekologi Kawasan

Bagikan opini
Ilustrasi Batang Arau; Antara Nostalgia Kota Tua dan Tantangan Ekologi Kawasan

Fenomena "stres panas" ini adalah bukti nyata kegagalan integrasi antara desain modern dengan perlindungan vegetatif.

Krisis ini diperparah oleh kondisi vegetasi yang ada saat ini: Kegagalan Kanopi: Pohon Ketapang (Terminalia Catappa) yang seharusnya menjadi peneduh utama tumbuh secara sporadis dan berada dalam kondisi tidak sehat.

Akibat kurangnya volume tanah dan perawatan, pohon-pohon ini gagal membentuk kanopi yang saling terhubung.

Malapraktik Ekologis: Alih-alih dirawat sebagai aset peneduh, pohon-pohon ini justru mengalami degradasi fungsi karena digunakan sebagai tambatan tali bagi kapal-kapal yang bersandar di dermaga kecil, yang semakin merusak kesehatan struktur batang dan akarnya.

Radiasi Material: Ketimpangan antara penggunaan material perkerasan (keramik/ beton) yang luas dengan minimnya peneduhan menciptakan efek "tungku" yang mematikan aktivitas publik di siang hari.

Dari panas yang menyengat kulit, persepsi pengunjung kemudian dihantam oleh gangguan sensorik lainnya yang sering kali terabaikan dalam desain urban formal.

Kualitas sebuah ruang terbuka ditentukan oleh pengalaman 'multisensorik' yang utuh.

Di kawasan Batang Arau, pengalaman "tak kasat mata" ini justru merusak seluruh narasi sejarah kejayaan masa lalu yang ada.

Kalau kita cermati secara utuh, maka terdapat tiga gangguan utama yang menghancurkan kenyamanan sensorik (sensory comfort) di kawasan ini:

Aroma Limbah: Bau menyengat dari lumpur dan limbah organik sungai menjadi polusi 'olfactory' yang dominan.

Bagikan

Opini lainnya
Terkini