Sejak diimplementasikan pada Maret 2025, inovasi tersebut menunjukkan hasil yang positif.
Jumlah responden meningkat dari kurang dari 10 orang menjadi rata-rata 80 hingga 100 responden setiap bulan.
Partisipasi pasien dalam survei juga naik dari di bawah 10 persen menjadi sekitar 60–70 persen dari sasaran survei.
Tak hanya itu, proses pengolahan data yang sebelumnya membutuhkan waktu 7 hingga 14 hari kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu hari.
Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan dokter IGD pun meningkat signifikan, dari 78 persen menjadi 92 persen.
Herlina menambahkan, BELALAI DORI menilai pelayanan dokter berdasarkan lima indikator utama, yakni komunikasi, empati, profesionalisme, kejelasan informasi medis, dan kepuasan pelayanan.
Hasil penilaian tersebut menjadi dasar pembinaan tenaga medis serta penyusunan strategi peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit.Menurutnya, inovasi ini juga mendukung penerapan pelayanan yang berpusat pada pasien (patient centered care), memperkuat transparansi layanan, memenuhi standar akreditasi rumah sakit, dan berpotensi diterapkan pada unit pelayanan lainnya.
"Transformasi digital harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat tata kelola rumah sakit yang profesional, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi," kata Herlina.
Selain memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat dalam menyampaikan penilaian terhadap pelayanan, BELALAI DORI juga menjadi instrumen bagi manajemen rumah sakit dalam menyusun kebijakan, melakukan pembinaan, hingga memberikan penghargaan kepada tenaga medis berdasarkan hasil evaluasi yang terukur.
Editor : Veby Rikiyanto