Yakni, sang ayah, mantan Ketua PDIP Sumbar, Yohanes Lukman dan Taufik Kiemas, politisi senior PDIP yang juga suami Ibu Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri.
“Dari almarhum ayah, saya mengingat pesan, ‘Berpolitik lah dengan memperjuangkan hak minoritas dengan tidak mengabaikan mayoritas.’,” ungkap Alex.
“Dari almarhum Pak Taufik, soal rivalitas dalam perjuangan politik yang tak dapat dielakan. Pesan Pak TK (Taufik Kiemas); ‘Buat apa menang 5-0 kalau dengan 2-1 pun sudah menang,” tambah anggota DPR RI Dapil Sumatera Barat I itu.
Merdeka Berpikir dan Kemandirian
Pentingnya tokoh bangsa untuk berbagi panggung dan waktu itu, juga diungkapkan Halida Hatta saat menyampaikan pidato politiknya yang ditingkahi berbagai bunyi-bunyian musik tradisi Minangkabau yang dimainkan kelompok musik kontemporer “Talago Bunyi.”
“Ayah dan Bung Karno, merupakan sosok yang saling percaya dengan kapasitas masing-masing. Kehadiran mereka dalam perjuangan kebangsaan ini, saling melengkapi,” ungkap Halida dalam pidatonya.
“Saling percaya juga terjadi pada pemimpin sipil yang direpresentasikan Bung Karno-Hatta dengan berbagai pemimpin militer yang bergerilya di hutan-hutan. Semuanya saling percaya bahwa tujuannya tetap sama, menuju kemerdekaan bangsa,” tambah putri bungsu Bung Hatta ini.Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Halida Hatta mengingatkan makna kemerdekaan yang juga harus diwujudkan melalui kemerdekaan dalam berpikir, kemandirian dan kemampuan bangsa menentukan masa depannya sendiri.
“Indonesia merdeka, tetapi kita juga harus bisa menjamin bahwa kita merdeka dalam berpikir,” tegas Halida.
Di era makin pesatnya perkembangan teknologi informasi yang salah satunya ditandai dengan makin maraknya pengguna kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI), Halida mengingatkan masyarakat agar terus mengasah akal untuk terus memiliki kemampuan berpikir kritis.
Editor : MI-1