TANGGAL 3 Agustus 1957, sebuah keluarga tiba di Sumatera Barat dalam senyap. Mereka bukan wisatawan yang datang menikmati keindahan Ranah Minang.
Mereka bukan perantau yang sedang mencari penghidupan baru. Mereka datang membawa kecemasan, ketidakpastian, dan harapan untuk menemukan tempat yang aman di tengah situasi politik yang sedang bergejolak.
Di antara rombongan tersebut terdapat Bianti Djojohadikusumo dan Maryani Djojohadikusumo yang masih berusia belia.
Bersama mereka ikut pula adik mereka yang ketika itu masih berusia sekitar lima tahun, Prabowo Subianto.
Mereka datang bersama sang ibu, sementara ayah mereka, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, tidak berada bersama mereka.
Mereka belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Mereka hanya mengetahui bahwa ayah mereka telah pergi lebih dahulu dan bahwa keluarga harus meninggalkan kehidupan yang selama ini mereka kenal.Pertanyaan yang muncul dalam benak mereka sangat sederhana: mengapa keluarga harus berpindah? Ke mana ayah pergi? Dan kapan mereka dapat berkumpul kembali?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut baru mereka pahami bertahun-tahun kemudian.
Tahun 1957 merupakan salah satu periode yang penuh dinamika dalam sejarah Indonesia. Situasi politik nasional berkembang dengan cepat dan sering kali tidak menentu.
Dalam suasana seperti itulah Prof. Soemitro Djojohadikusumo memperoleh informasi bahwa dirinya akan ditangkap eaok pagi.
Editor : Al Mangindo