Di Malaysia, keluarga Prof. Soemitro memperoleh dukungan dari sejumlah sahabat lama beliau. Sebelum berbagai pergolakan politik terjadi, Prof. Soemitro telah menjalin hubungan baik dengan banyak tokoh di kawasan Asia Tenggara.
Di antara sahabat dekatnya adalah Tunku Abdul Rahman dan Abdul Razak Hussein. Persahabatan tersebut membantu keluarga Soemitro menjalani tahun-tahun awal kehidupan mereka di pengasingan.
Mereka mulai membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti. Namun sejarah kembali menghadirkan tantangan baru.
Ketika hubungan Indonesia dan Malaysia memburuk pada masa Konfrontasi yang dikenal dengan slogan "Ganyang Malaysia", situasi menjadi semakin sulit. Keluarga Soemitro kembali harus mencari tempat yang lebih aman.
Mereka meninggalkan Malaysia dan menuju Swiss. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, mereka kemudian menetap di London, Inggris. Di kota itulah sebagian besar masa pengasingan mereka berlangsung.
Tahun demi tahun berlalu.Anak-anak yang dahulu datang ke Sumatera Barat dalam suasana penuh ketidakpastian tumbuh menjadi pribadi dewasa.
Mereka menjalani pendidikan, beradaptasi dengan lingkungan internasional, dan belajar membangun kehidupan jauh dari tanah kelahiran mereka.
Prof. Soemitro sendiri berasal dari keluarga Jawa Banyumas dan dibesarkan dalam tradisi pendidikan Belanda yang kuat. Sementara istrinya, Dora Marie Sigar, berasal dari Manado.
Latar belakang keluarga yang beragam tersebut, ditambah pengalaman hidup di berbagai negara, membentuk karakter dan pandangan hidup keluarga Djojohadikusumo selama masa pengasingan.
Editor : Al Mangindo