Tidak mengherankan apabila kota-kota besar dunia menempatkan kegiatan ini di ruang paling strategis yang mereka miliki.
Di Kolombia, kota Bogotá dikenal sebagai pelopor program Ciclovía, dimana lebih dari seratus kilometer jalan utama dibuka untuk jutaan warga setiap akhir pekan.
Di Brasil, São Paulo menjadikan Avenida Paulista yang merupakan jalan paling prestisius dan tersibuk di negara itu sebagai ruang publik raksasa yang dapat dinikmati seluruh masyarakat.
Mexico City mengembangkan program Muévete en Bici di koridor utama pusat kota.
Quito di Ekuador melakukan hal serupa dengan memanfaatkan jaringan jalan perkotaan yang menjadi tulang punggung aktivitas masyarakat.
Di Asia, Tokyo menghadirkan konsep Pedestrian Paradise di kawasan Ginza, salah satu pusat ekonomi paling terkenal di dunia.Seoul secara rutin membuka kawasan pusat kotanya untuk aktivitas publik.
Sementara Singapura menyelenggarakan Car-Free Weekend di Civic District, kawasan yang menjadi jantung pemerintahan dan kebudayaan negara tersebut.
Semangat yang sama juga tumbuh di Eropa. Paris beberapa kali menutup kawasan Champs-Élysées sebagai simbol kota yang lebih ramah bagi manusia.
Brussels menjadikan hari bebas kendaraan dalam skala hampir seluruh kota.