Gubernur juga mengaitkan pendidikan karakter dengan kebutuhan membangun generasi yang tangguh menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana.
Pengalaman Sumbar menghadapi bencana hidrometeorologi menjadi pembelajaran bahwa ketangguhan masyarakat tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kesiapsiagaan, disiplin, kepedulian, dan solidaritas sejak dari lingkungan pendidikan.
“Alam takambang jadi guru. Setiap perkembangan zaman harus menjadi pelajaran, setiap perubahan harus menjadi peluang.”
“Termasuk pengalaman kebencanaan yang kita hadapi, harus menjadi pembelajaran untuk membangun generasi yang lebih siap, peduli, dan tangguh,” katanya.
Kepada para siswa, Mahyeldi berpesan agar terus belajar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memperkuat kemampuan bahasa asing dan kompetensi digital, serta membangun jiwa kewirausahaan.
Namun, seluruh kemampuan tersebut harus tetap dibingkai dengan keimanan, salat, Al Quran, akhlak dan integritas.
“Kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi dalam waktu yang sama jangan pernah meninggalkan salat dan Al Quran,” pesannya.Menurut Gubernur, teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi akhlak menentukan arah penggunaannya. Pendidikan vokasi dapat membekali siswa dengan keterampilan teknis, namun kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama harus dibangun sejak bangku sekolah.
Karena itu, guru dan tenaga kependidikan diharapkan menjadi teladan dalam membangun budaya pendidikan karakter.
Ia berharap, Masjid Ahmad Karim tidak hanya ramai saat peresmian, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah melalui salat berjamaah, membaca Al Quran, kajian ilmu, pembinaan akhlak, kegiatan sosial, hingga edukasi kebencanaan.
Editor : Al Mangindo