Jutaan kilogram daging dibagikan secara gratis dalam waktu singkat, tanpa orientasi langsung pada keuntungan finansial.
Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ketika seekor sapi atau kambing dibeli untuk kurban, sesungguhnya yang bergerak bukan hanya transaksi jual beli hewan.
Ada peternak kecil di desa yang selama berbulan-bulan merawat ternaknya dengan penuh harapan hingga akhirnya memperoleh penghasilan terbesar mereka saat Idul Adha tiba.
Ada pedagang pengumpul, sopir pengangkut ternak, pekerja pasar hewan, hingga tukang jagal yang ikut menggantungkan penghidupannya dari perputaran ekonomi tersebut.
Bahkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, tali pengikat, plastik pembungkus, timbangan, hingga relawan distribusi, semuanya ikut bergerak tanpa sebuah sistem yang sengaja dibuat namun bergerak dengan ekonomi bersama.
Jauh sebelum teori ekonomi modern lahir, Islam ternyata telah menghadirkan mekanisme distribusi yang luar biasa.Albert O. Hirschman dalam teori backward linkage yang baru hadir di era ini menjelaskan bagaimana satu permintaan akhir mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi lain di belakang rantai produksi.
Dan Idul Adha bisa disebut secara nyata menjadi asal teori tersebut.
Permintaan terhadap hewan kurban menciptakan efek berantai yang menghidupkan ekonomi rakyat, terutama di pedesaan.
Uang yang dibelanjakan seseorang untuk membeli hewan kurban tidak berhenti pada satu transaksi, terus berputar menjadi penghasilan bagi banyak orang lainnya.