Berbagai kajian ekonomi dan data remitansi uang perantau menunjukkan nilainya mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun.
Uang itu mengalir ke nagari-nagari kecil. Membangun rumah-rumah keluarga. Menyekolahkan adik dan keponakan.
Menghidupkan usaha kecil di kampung. Membangun masjid, surau, jalan, hingga membantu sanak saudara bertahan hidup.
Betapa banyak kampung di Sumatera Barat yang sebenarnya tetap hidup karena denyut nadi anak-anaknya di rantau.
Mereka pergi membawa mimpi, tetapi tidak pernah benar-benar memutuskan hubungan dengan tanah kelahirannya.
Karena bagi orang Minang, Kesuksesan di rantau bukan hanya tentang menjadi kaya.Tetapi tentang bagaimana hasil perjuangan itu kembali menghidupkan kampung halaman.
Namun hari ini, sesuatu mulai berubah.
'Gen Z' mulai gamang.
Rantau tak lagi dilihat sebagai hamparan harapan, tapi sebagai lembah tekanan, kompetisi dan ketidakpastian.