Takut kehilangan bantal-bantal kenyamanan.
Maka mereka pun memilih tetap tinggal. Bukan karena cinta kampung, walaupun di kampung juga penuh ketidakpastian.
Inilah ironi terbesar zaman ini. Mereka memiliki akses informasi seluas samudra.
Dunia ada di ujung jari. Mudah mencari informasi.
Tapi justru karena terlalu banyak melihat dunia, mereka semakin takut melangkah ke dunia nyata.
Terlalu sering melihat keberhasilan kilat. Terlalu sering membandingkan hidup dengan pencapaian orang lain.Terlalu ingin semuanya aman sebelum satu kaki pun melangkah.
Padahal, sejarah tak pernah ditulis oleh para penunggu kepastian.
Sejarah ditulis oleh anak-anak muda yang berangkat tanpa jaminan.
Tanpa koneksi.