Khatib Sulaiman harus diposisikan sebagai "gerbang wisata" yang menghubungkan wisatawan menuju destinasi utama lainnya seperti Pantai Padang/ Taplau atau Kawasan Kota Tua Padang.
BAGI MASYARAKAT perkotaan, matahari terbenam biasanya menandai berakhirnya ritme sebuah kota. Namun, di koridor Jalan Khatib Sulaiman, Padang, senja justru menjadi babak pembuka bagi kehidupan yang lebih dinamis.
Jalan yang dinamai dari tokoh agama terkemuka Sumatera Barat ini telah bermetamorfosis; dari sekadar urat nadi transportasi utama yang kaku, kini menjadi ruang publik inklusif yang menghidupkan ekonomi dan ekspresi budaya di malam hari.
Sebagai pemerhati tata kota, saya melihat fenomena ini bukan sekadar keramaian musiman, melainkan bagaimana ruang publik formal (taman, fasilitas pedestrian, dan trotoar) dinavigasi ulang dan diberi makna baru oleh kelompok anak muda dan masyarakat yang berbeda, sehingga tercipta sebuah tempat yang cair, kompleks, dan kadang 'kontradiktif'.
Hal ini seolah menjawab dahaga warga akan "third place" (ruang ketiga) yang manusiawi di malam hari.
Arsitektur yang Adaptif: Dari Jalur Transportasi ke 'Arteri Sosial'Transformasi drastis Jalan Khatib Sulaiman dimulai melalui revitalisasi infrastruktur besar-besaran sejak tahun 2021.
Pemerintah kota tidak hanya memperlebar trotoar, tetapi juga menyuntikkan elemen desain urban yang cerdas: bangku-bangku taman di jalur pedestrian, taman rumput, jalur sepeda, dan penataan lampu jalan yang estetis.
Secara teknis, lanskap jalan ini memiliki karakter yang lurus dan terbuka, sebuah fitur perencanaan yang sangat "krusial", karena bisa dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima mengelar dagangannya.