Desain ini bukan tanpa alasan; selain estetika, koridor ini dirancang dengan prinsip keberlanjutan dan ketangguhan bencana (disaster-resilient design) sebagai jalur evakuasi, mengingat posisi geografis Kota Padang yang rawan gempa dan tsunami.
Visual jalan ini kian menarik dengan percampuran gaya arsitektur yang kontras.
Kita bisa melihat gedung modern minimalis dan neo vernakular berdiri berdampingan dengan aksen atap gonjong khas Minangkabau serta pengaruh dominan dari arsitektur tropis memberi ciri tersendiri.
Menariknya, koridor hijau yang didominasi pohon palem dan pohon tabebuya di sepanjang trotoar dan median jalan memberikan napas tropis yang kuat, menciptakan suasana "sungai cahaya" saat lampu-lampu LED mulai berpijar di sela pepohonan.
Secara tidak langsung "aktivitas warga dan UMKM di sini berhasil 'mengaktifkan' arsitektur kota yang statis. Ruang-ruang kosong yang biasanya mati di malam hari kini berubah menjadi ruang tamu publik yang hangat dan aman."
Ekonomi Kreatif di Pinggir Jalan: Fenomena Kopi Motor dan "Gastronomi Lokal"Memasuki pukul 21:00 WIB, dari sisi jalan di sekitar area perempatan Jalan Jhoni Anwar hingga perempatan Masjid Raya Sumbar mulai "berdenyut".
Di sinilah UMKM kopi motor/ mobil dan gerobak sederhana mengambil peran sebagai motor penggerak ekonomi kreatif. Mereka tidak hanya menjual minuman, tapi juga suasana.
Kopi Robusta lokal Sumatera Barat yang diseduh segar menjadi primadona, dibanderol dengan harga sangat terjangkau, antara Rp5.000 hingga Rp12.000 per cangkir/ cup.
Fenomena ini mengingatkan kita pada night market di Bangkok atau Taipei, di mana aroma kopi dan interaksi sosial menyatu memperkuat 'pariwisata gastronomi'.