Bahkan hingga hari ini, ia menyebut kain Patola dari Gujarat dianggap sebagai simbol gengsi di Indonesia yang pengaruhnya masih dapat dilihat dalam tradisi Batik.
“Itulah mengapa Presiden Sukarno pernah berkata: rakyat Indonesia dan India terikat oleh hubungan darah dan budaya,” ucap PM Modi mengutip pernyataan Presiden Sukarno.
PM Modi juga mengenang kebersamaan para pendahulu kedua bangsa, termasuk perjuangan masyarakat India-Indonesia yang sama-sama mengalami masa kolonial panjang.
“Kedua bangsa kita meraih kemerdekaan di waktu yang hampir bersamaan, Indonesia pada tahun 1945, dan India pada tahun 1947. Ketika kedaulatan Indonesia dipertaruhkan, India menjadi suara yang kuat bagi kebebasannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kenang PM Modi.
“Pada masa itu, peran yang dimainkan oleh Biju Patnaik yang terhormat, khususnya misinya dalam membawa Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dengan selamat ke India, telah mendekatkan bangsa kita secara lebih erat lagi,” sambungnya.
Lebih lanjut, PM Modi berbicara soal ikatan lain yang menyatukan India dan Indonesia, yakni demokrasi dan keberagaman. Ia mengatakan India adalah negara demokrasi terbesar di dunia dan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.“India memiliki ratusan bahasa dan tradisi yang tak terhitung jumlahnya. Begitu pula dengan Indonesia. India percaya pada Vasudhaiva Kutumbakam: dunia adalah satu keluarga. Indonesia menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi tetap satu,” papar PM Modi.
Menurutnya, demokrasi di India dan Indonesia telah mengubah keberagaman menjadi landasan persatuan. Terkait hal ini, PM Modi mengingat saat India merayakan Hari Republik pertamanya pada tahun 1950 di mana Presiden Sukarno menjadi Tamu Kehormatan.
“Kemudian, pada Konferensi Bandung, Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru mengirimkan pesan yang kuat kepada dunia, bahwa negara-negara merdeka memiliki hak berdaulat untuk membuat keputusan mereka sendiri,” tegasnya.
PM Modi pun menyinggung soal Indonesia yang menunjukkan kekuatan demokrasi sesungguhnya melalui Reformasi.
Editor : Al Mangindo