Sebaliknya, konektivitas menuju Pantai Timur Sumatera membuka akses yang lebih cepat menuju Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan melalui jalur perdagangan Selat Malaka.
Karena itu, terlalu sempit apabila keberhasilan jalan tol hanya diukur dari jumlah kendaraan yang melintas atau besarnya pendapatan tarif.
Nilai sesungguhnya justru terletak pada manfaat ekonomi yang dihasilkannya, biaya logistik yang lebih rendah, investasi yang tumbuh, ekspor yang meningkat, kawasan industri yang berkembang, serta lapangan kerja baru yang tercipta.
Sumatera Barat juga memiliki karakteristik yang unik. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,9 juta jiwa, jumlah perantau Minangkabau diperkirakan bahkan melampaui penduduk yang tinggal di kampung halaman.
Setiap musim mudik, Idulfitri, Natal, Tahun Baru, maupun liburan sekolah, ruas Padang - Bukittinggi menjadi salah satu jalur paling padat di Sumatera.
Perjalanan yang semestinya hanya memerlukan waktu sekitar dua jam sering berubah menjadi lebih dari enam jam.Kemacetan bukan sekadar persoalan kenyamanan tapi pemborosan waktu, bahan bakar, biaya logistik, dan energi. Jalan tol sesungguhnya membeli kembali waktu produktif masyarakat yang selama ini hilang di tengah antrean kendaraan.
Dampak berikutnya akan dirasakan sektor pariwisata. Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Payakumbuh, dan Padang Panjang selama ini menjadi destinasi unggulan Sumatera Barat.
Persoalan utamanya bukan pada kurangnya daya tarik wisata, melainkan akses menuju destinasi.
Semakin singkat waktu perjalanan, semakin besar peluang wisatawan datang dan semakin lama mereka tinggal.